Dalang Wayang Kulit Cilik Membanggakan MalangKompas, Selasa, 14 Januari 2003 SETELAH awan mendung terusir pada petang hari di Kota Malang, Sabtu (11/1) pekan lalu, adegan wayang kulit dengan dalang cilik perempuan, Sonya Condro Lukitosari (9), di Sekolah Internasional Westley, Malang, digelar dengan sangat menarik. Antusiasme ketertarikan menonton pada anakanak, kaum muda, serta para orangtua yang berbaur sangat terlihat. CONDRO membawakan adegan itu selama sekitar 30 menit. Iringan karawitan gamelan untuk dalang cilik perempuan ini juga dilakukan oleh anakanak yang terlatih dari Padepokan Seni Mangun Dharma di Tumpang, Kabupaten Malang. Padepokan tersebut milik ayah Condro, yang juga menjadi Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten dan Kota Malang Mohammad Soleh Adi Pramono. Adegan dalang cilik itu sangat memukau penonton. Ratusan penonton dari masyarakat setempat dan berbagai tamu undangan, baik siswa sekolah tersebut maupun para orangtua siswa dari mancanegara, yang hadir juga terpukau. Buto Ramhut Geni menjadi lakon yang dimainkan dalang cilik Condro, siswa kelas III SD pada sekolah internasional yang berada di Karangbesuki, Kota Malang, ini. Inti lakon yang disampaikan cukup simpel, dengan mengisahkan hasrat ksatria Janaka (Arjuna - Red) yang ingin membangun sebuah candi sebagai amanat pendarmaan. Tetapi, halangan dan rintangan mencapai kebaikan itu selalu muncul. Candi yang ingin didirikan itu diberi nama Candi Saptorenggo. Untuk mencapai ternpat pendirian candi, Janaka yang disertai para punakawan harus melalui sebuah hutan yang sangat lebat dan mengerikan. Hutan tersebut banyak dihuni oleh buto (bahasa Jawa untuk raksasa) yang jahat. Niat baik Janaka untuk mendirikan candi ketika melewati hutan tersebut dihadang para raksasa berambut geni (api) itu. "Bojleng.. .bojleng... Sapa kowe wani mlebu alas panggonane para buto? (Bojleng. . .bojleng... Siapa kamu yang berani memasuki hutan, tempat para raksasa?)," begitu dalang cilik Condro yang berambut pirang ini menuturkan kisah dengan bahasa Jawa yang mantap. Dikisahkan Condro, Janaka bersama punakawan dihadang para raksasa itu dan akhirnya terjadi perang tanding di antara mereka. Saking banyak raksasa yang melawan, Janaka pun akhirnya dibantu oleh Srikandi, istrinya yang pintar niemanah. Masih kewalahan juga, akhirnya kemenakan Janaka, Gatotkaca, putra Werkudara (Bima), yang memiliki otot kawat, tulang besi itu, datang membantu. Para raksasa dibuat kocarkacir oleh Gatotkaca dan akhirnya para raksasa menyerah dan bertakluk kalah. Janaka disertai para punakawan melanjutkan tugas darma baktinya untuk membuat Candi Saptorenggo. Pertama kali Selepas adegan dalang cilik ini, segera dilanjutkan dengan rangkaian acara peringatan Tahun Baru 2003 dengan lantunan berbagai lagu campursari, dagelan tradisional, dan wayang kulit semalam suntuk. Dalang untuk adegan wayang kulit semalam suntuk itu adalah Ki Soleh Adi Pramono, ayah kandung dalang cilik Condro. Kisah adegan wayang kulit semalam suntuk tersebut berjudul Banjaran Anoman. Menurut Soleh, kisah itu menceritakan perjalanan hidup mulai dari lahir hingga mati tokoh wayang Anoman. Kepala Sekolali Internasional Westley, Jeff Seely, menuturkan kepada Kompas di selasela pertunjukan itu bahwa bentuk kegiatan ini diselenggarakan baru pertama kali. Sekolah Internasional Westley menempati lokasi tersebut sejak hampir dua tahun lalu. "Saya menjadi kepala sekolah sudah tiga tahun dan gedung sekolah ini masih baru, hampir dua tahun. Tetapi, Sekolah Internasional Westley di Malang dan menjadi satusatunya di Indonesia ini sudah ada sejak sekitar 30 tahun yang lalu," kata Jeff yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Sekolah Internasional Westley merupakan sekolah khusus bagi anakanak yang menjadi warga negara asing yang berdomisili di Indonesia. Tetapi, warga Indonesia secara khusus pula dapat diterima, dengan persyaratan memiliki salah satu orangtua yang berasal dari warga negara asing. Anak Indonesia asli juga dapat diterima, lanjut Jeff, asalkan anak tersebut sebelumnya pernah bersokolah di luar negri. Tanpa memenuhi kondisi persyaratan tersebut, Sekolah Internasional Wesley ini akan menolak. "Saat ini ada sekitar 100 murid dan 16 guru dari berbagai negara," kata Jeff. Sebanyak sekitar 100 murid itu masih dibagi dalam tingkat TK, SD, SMP, dan SMU. Dari 16 guru tersebut, hanya ada tiga guru dari Indonesia, lainnya dari Jerman, Korea, Kanada, dan AS sendiri. Jeff tidak dapat merinci asal negara para muridnya, tetapi yang jelas, sebagian besar muridnya itu berasal dari Korea Selatan. Orangtua para murid Sekolah Internasional Westley biasanya bergerak di bidang usaha swasta atau sebagai konsultan yang sedang menetap di Malang atau Surabaya. Seluruh aktivitas pendidikan bagi murid ini menggunakan standar pendidikan dan bahasa internasional. Di balik peristiwa budaya di Sekolah Internasional Westley ini, terlihat suatu totalitas kesenimanan tradisional yang ditempuh oleh sebuah keluarga, yaitu keluarga yang dimiliki Sonya Condro Lukitosari yang memiliki nama panggilan Condro ini. la merupakan anak sulung dari pasangan Mohamniad Soleh Adi Pramono (49) dan Karen Elizabeth Sekar Arum (38), yang sebelumnya sebagai warga negara AS dari Wisconsin. Condro masih memiliki adik bungsu, Kyan Andaru Kartikaningsih (4). Karen, ibu Condro, pada pementasan tersebut juga terlibat dalam memerankan pesinden kerawitan. Untuk sela acara, Karen pun menari remo, yang menjadi seni tradisional khas di Jawa Timur, yaitu dalam gerakan tariannya juga diiringi deftgan lantunan lagu dengan berbahasa Jawa. Pada akhirnya, Soleh, ayah Condro, ini membawakan adegan wayang kulit semalam suntuk. Keadaan itulah yang kini menunjukkan adanya suatu totalitas di dalam melestarikan seni tradisional di Malang. (NAWA TUNGGAL) |