homecontactcontributionsshopnewsletter

Lewat Topeng Bapang, Elisabeth Menyapa

Kompas, Jumat, 4 Januari 2002

KEBERLANGSUNGAN seni tradisi memang sangat memerlukan peran penguasa. Bahkan, jika penguasa mau berkesenian tradisi, bukan hanya menambah keagungan diri, tetapi ia membuat rakyat tersuguhi kenikmatan pandang dari sebuah ritual, yang dapat menjalar pada peresapan maknanya. Pada akhirnya, rakyat makin tercerahkan oleh semangat keselarasan hidup dari tata nilai ritual seni tradisi itu.

USAI mengenyam ritual seni tradisi yang dipelopori oleh panutan rakyat, maka rakyat makin terhidupi oleh roh harmonisasi, roh keselarasan. Rakyat akan dengan enak bekerja. Rakyat akan dengan enak mengembangkan dialektika. Dan, rakyat dengan enak pula, bahkan boleh bermimpi menjadi penguasa.

Dengan enak lagi, rakyat akan melestarikan kesenian tradisi yang bertaburan tata nilai universal itu. Lalu, ketenteraman menjadi harta murah yang dapat terbeli oleh setiap orang.

Tidak salah jika Elisabeth Sekar Arum (37) dari Chicago, Amerika Serikat, setelah menyuguhkan tari topeng bapang, bersama Sonya Condro Lukitosari (8), putrinya, berpengharapan agar Bupati Malang Ibnu Rubianto peduli dengan seni tradisi malangan. Ini lontaran ajaib, dan mengesankan dari seorang Chicago. Selama ini Bupati Malang terkesan enggan memberdayakan para seniman Malang.

Elisabeth menampilkan tarian topeng 27 Desember 2001, di Pendopo Kabupaten Malang, dalam rangka Peringatan Hari Gerak PKK dan Hari Ibu. Bupati Malang sempat menghadiri acara itu hingga selesai. Mohamad Soleh Adi Pramono (48), suami dari Elisabeth - yang memiliki nama asli Karen Elisabeth - menjelaskan, tari topeng bapang merupakan tarian tradisi malangan. Pencipta tarian ini tidak diketahui. Jumlah penarinya dua orang. Satu penari dewasa atau bertubuh besar, 'dan satunya anak kecil.

Tari topeng bapang mengalun diiringi suara gemerincing klinthingan yang dipasang pada kaki para penarinya, dan iringan musik tradisional gamelan. Nada gemerincing berpadu dan mengisi harmoni dari musik gamelan. Tuturkata berirama nan indah, tetapi berbahasa Jawa halus menyertai prosesi tari itu.

Tarian ini ingin menyampaikanmakna adanya perbedaan derajat pada manusia. Ada derajat tinggi dan derajat rendah. Manusia berderajat' atau berpangkat rendah akan mengabdi pada manusia berderajat tinggC Tetapi, melalui tarian ini diajarkan,; manusia yang berderajat rendah sesungguhnya adalah lebih pintar daripada manusia yang berderajat lebihi tinggi. Manusia berderajat tinggi harus selalu mau belajar pada manusia berderajat rendah.

Elisabeth menari dengan gemulai dan menghentakhentak. Tarian ini. berbeda dengan tari dari Jawa Tengah, atau Yogyakarta yang bertata gerak; lemah lembut dan gemulai, tanpa; menghentakhentak. Sonya membuat tata gerak tari yang tak kalah indatn nya dengan Elisabeth. Gerak Sonya serupa gerak tari Elisabeth.

Ketika menari, mereka mengenakan topeng jenaka bercat merah tua. Topeng Elisabeth berhidung panjang, topeng Sonya berhidung pesek dan bergigi kelinci. Pada adegan tertentu, Sonya bersujud sembah pada Elisa: beth. Elisabeth lalu bertutur kata dan dijawab Sonya.

Itulah dialog antara yang berderajat tinggi dengan yang berderajat rendah. Di sini diajarkan, dialog atau komunikasi itu bagian terpenting yang harus ada dalam kehidupan manusia. Dan, pesan yang ditekankan tari topeng bapang adalah ma-nusia berderajat lebih rendah itu le-bih pintar daripada yang berderajat tinggi. Selalu belajarlah pada mereka yang berderajat atau berpangkat rendah.

PASANGAN suami-istri Soleh dan Elisabeth sebenarnya sudah tak asing lagi bagi penikmat seni tradisional malangan. Namun, hingga kini mereka masih memiliki harapan yang belum tercapai. Mereka ingin membangkitkan seni tradisi malangan menjadi tuan rumah sendiri di Malang. Sebab, pertunjukan seni tradisi di Malang sampai kini sering mendatangkan seniman dari luar Malang. Soleh lahir di Poncokusumo, Ma-lang, sedangkan Karen Elisabeth atau Elisabeth Sekar Arum lahir di Chica-go. Keduanya bertemu di Malang sejak tahun 1989. Elisabeth belajar seni tari dari Soleh di Padepokan Seni Mangun Dharma, di Dusun Kemulan, Desa Tulus Besar, Kecamatan Turnpang, Malang. Keduanya menikah tahun 1991, dan kini dikaruniai dua putri; Sonya dan Kyan Andaru Kartika Ningsih (3).

Sonya selain belajar tarian tradisional, kini juga belajar balet di Sekolah Balet Suni's, Malang.

Kepedulian Soleh dan Elisabeth terhadap seni tradisi malangan sangat luar biasa. Soleh selaku pimpinan padepokan selalu berpikir keras untuk menghidupi anak buahnya sebanyak 560 senimanseniwati tradisi malangan. Mereka terbagi menjadi kelompokkelompok seni tradisi, meliputi seni jaran kepang, tari, pedhalangan, karawitan, macapat, wayang topeng, pembuatan kerajinan topeng, dan pembuatan kerajinan wayang kulit. Semua berpusat di Tumpang. Elisabeth yang sangat mengagumkan ketika menari itu, mengakui dirinya lebih lihai dalam menembang Jawa. la telah menjadi pesinden yang sudah malangmelintang di segenap wilayah Jawa Timur.

Bagi Soleh dan Elisabeth yang memiliki latar belakang budaya berbeda, ketika mengolah dan menghayati seni tradisi malangan itu mereka berusaha tidak ingin mematikan akar budaya masingmasing. Ini terlihat dari upaya pembela jaran anakanak mereka. Misalnya, dalam berkomunikasi. Sonya dan Andaru akan menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan Soleh, bapaknya. Tetapi, Sonya dan Andaru ini akan menggunakan bahasa Inggris ketika harus berkomunikasi dengan ibunya, Elisabeth.

BAGI Soleh, seni tradisi malangan yang paling khas adalah tari topeng. Mengapa begitu? la langsung bertutur, semula Prabu Gajayana, raja dari Kerajaan Kanjuruhan juga seorang penari. Raja inilah yang menumbuhkan .seni tari tradisi malangan, termasuk seni tari topeng yang berkembang di Malang hingga kini.

Ahli arkeologi dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, menuturkan, Prabu Gajayana memang seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan. Letak pusat kerajaan itu diperkirakan tak jauh dari Candi Badut di Kota Malang. Dulu, pernah ada wilayah yang disebut Dukuh Kejuron. Dari kemiripan nama antara Kanjuruhan dan Kejuron, diperkirakan letak itu sebagai pusat Kanjuruhan. Kini lokasi itu menjadi Perumahan Tidar, Malang.

Berdasarkan Prasasti Kanjuruhan atau Dinoyo I, Candi Badut didirikan tahun 760 Masehi. Prabu Gajayana temyata juga disebut sebagai Liswa, artinya penari jenaka. Penari jenaka atau disebut badut itulah yang diperkirakan sebagai salah satu alasan untuk memberi nama Candi Badut. Di zaman dulu terlihat peran penguasa yang kuat dalam menghidupkan seni tradisi di Malang. Tetapi, penguasa sekarang tidak. Rakyat dibiarkan berkelana di padang pasir....

 top    home    back to overview